Kalong atau bekang telah ada sejak leluhur terdahulu merupakan satu-satunya alat angkut gendong khas masyarakat adat Dayak Tenggalan yang berfungsi untuk memindahkan baik ubi kayu maupun kayu api, padi. Selain itu, kalong juga digunakan sebagai tempat mengangkat tempayan, guci yang berisi minuman tradisional atau jenazah yang akan di kebumikan serta berbagai fungsi lainnya.
Kalong sangat familiar dalam Suku Dayak, terutama Dayak Tenggalan karena bahan-bahan yang digunakan dapat diperoleh di hutan, dalam bentuk rotan atau sega. Hingga masa kini eksistensi kalong atau bekang tetap dipertahankan, karena biasa digunakan oleh masyarakat Dayak Tenggalan untuk mencari nafkah di hutan.
Pada Irau Kabupaten Malinau ke-11, Lembaga Adat Dayak Tenggalan menampilkan replika kalong atau bekang berukuran tinggi 4 meter dengan lebar 4 sisi masing-masing 1,5 meter.
Share :


