Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menyatakan cita-cita untuk mengintegrasikan lembaga-lembaga riset di Indonesia sudah ada sejak era Soekarno hingga Habibie. "Cita-cita Habibie yang belum tercapai satu-satunya adalah mengintegrasikan lembaga riset”.
Terbentuknya BRIN tidak sekedar mengintegrasikan unit riset di Kementerian/Lembaga (K/L), tetapi mengkonsolidasikan seluruh sumber daya riset, yaitu SDM, infrastruktur, dan anggaran. Selain itu juga melakukan perubahan tata kelola dan pola kerja periset secara fundamental.
BRIN mentransformasikan kelembagaan dan tata kelola terbesar dalam sejarah Indonesia dengan mengintegrasikan unit-unit riset dari 70 K/L, termasuk 5 entitas riset utama (LIPI, BATAN, LAPAN, BPPT, dan Kemenristek/BRIN), dan Balitbang dari K/L.
Dengan integrasi ini, critical mass riset dan inovasi, yaitu SDM, infrastruktur, dan anggaran akan meningkat. Diharapkan hal inil dapat menjadi pengungkit ekosistem riset dan inovasi, sehingga mendorong munculnya lembaga Research and Development (R&D) di kalangan industri.
Share :


